FMIPA UHO, Konawe – Mahasiswa Program Studi Teknik Geologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Halu Oleo (UHO) melaksanakan kunjungan lapangan (field trip) ke area lereng kuari PT Konawe Metal Industri, perusahaan yang bergerak di bidang penambangan kuari batuan ultramafik, pada 18 Oktober 2026. Kegiatan yang diikuti oleh 81 mahasiswa peserta mata kuliah Geologi Teknik, didampingi asisten laboratorium dan dosen pengampu, merupakan tahap awal dari rangkaian Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning/PjBL), di mana mahasiswa akan menganalisis potensi kegagalan lereng kuari menggunakan pendekatan analisis kinematika yang diintegrasikan dengan berbagai metode klasifikasi massa batuan.

Lereng Kuari sebagai Laboratorium Alam
Lereng kuari batuan ultramafik merupakan objek kajian yang ideal bagi mahasiswa geologi teknik. Batuan ultramafik seperti peridotit di wilayah Sulawesi Tenggara umumnya telah mengalami serpentinisasi dan deformasi tektonik yang intensif, sehingga dicirikan oleh kekar yang rapat, bidang gores-garis (slickenside), serta zona sesar. Kondisi tersebut menjadikan kestabilan lereng sangat dikontrol oleh orientasi dan karakteristik bidang diskontinuitas, bukan semata oleh kekuatan batuan utuhnya.
Sebelum memasuki area tambang, mahasiswa terlebih dahulu mengikuti safety induction dari pihak perusahaan sebagai bagian dari penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pertambangan. Selanjutnya, dosen pengampu memberikan pengarahan teknis di depan muka lereng mengenai prosedur pengambilan data lapangan, mulai dari pemilihan lokasi scanline, identifikasi set kekar, hingga pengenalan indikator awal ketidakstabilan lereng seperti blok menggantung, rekahan tarik, dan rembesan pada muka lereng.

“Mahasiswa tidak hanya belajar dari buku dan ruang kelas. Di lapangan mereka berhadapan langsung dengan persoalan riil yang dihadapi industri, yaitu bagaimana memastikan lereng tambang tetap aman bagi pekerja dan peralatan. PjBL ini menuntut mahasiswa mengumpulkan data sendiri, menganalisisnya, lalu merumuskan rekomendasi teknis yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Masri, S.Si., M.T., selaku dosen pengampu mata kuliah.
Dari Pengukuran Scanline ke Analisis Kinematika
Dalam kegiatan ini, mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja. Setiap kelompok melakukan pengukuran orientasi bidang diskontinuitas (dip dan dip direction) menggunakan kompas geologi, serta mendeskripsikan parameter massa batuan meliputi spasi, persistensi, bukaan, kekasaran, material pengisi, tingkat pelapukan, dan kondisi air tanah. Estimasi kekuatan batuan di lapangan dilakukan melalui uji Schmidt hammer.

Data yang terkumpul akan diolah pada tahap PjBL berikutnya. Analisis kinematika berbasis proyeksi stereografis digunakan untuk mengidentifikasi jenis kegagalan yang mungkin terjadi, yaitu longsoran bidang (planar), longsoran baji (wedge), dan longsoran jungkiran (toppling), dengan membandingkan orientasi diskontinuitas terhadap geometri muka lereng dan sudut geser dalam. Hasil analisis tersebut kemudian diintegrasikan dengan klasifikasi massa batuan Rock Mass Rating (RMR), Geological Strength Index (GSI), dan Slope Mass Rating (SMR) untuk menilai kualitas massa batuan serta kelas kestabilan lereng secara lebih komprehensif. Luaran akhir proyek berupa laporan teknis dan rekomendasi geometri lereng yang juga akan dipresentasikan kepada pihak perusahaan.
Mendukung Capaian IKU FMIPA dan Kontribusi terhadap SDGs
Kegiatan PjBL berbasis mitra industri ini sejalan dengan Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi sebagaimana diatur dalam Kepmendiktisaintek Nomor 358/M/KEP/2025 yang diturunkan ke dalam IKU FMIPA UHO. Pengalaman belajar langsung di lingkungan industri yang terintegrasi dalam capaian pembelajaran mata kuliah mendukung IKU 3 (Aktivitas dan Prestasi Mahasiswa), sekaligus memperkuat kompetensi praktis yang dibutuhkan industri pertambangan dan konstruksi sebagai bekal bagi IKU 2 (Lulusan Terserap). Kolaborasi antara program studi dan PT Konawe Metal Industri yang menghasilkan luaran kajian teknis bagi perusahaan juga berkontribusi pada IKU 5 (Kerja Sama dan Hilirisasi), sementara keterkaitan kegiatan ini dengan agenda pembangunan berkelanjutan mendukung IKU 7 (Kontribusi Perguruan Tinggi pada SDGs).
Dalam kerangka tersebut, kegiatan ini berkontribusi terhadap empat SDGs prioritas FMIPA UHO. Penerapan model pembelajaran berbasis proyek yang kontekstual dan berorientasi pada pemecahan masalah nyata mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas). Kajian geologi teknik lereng kuari yang bertujuan menciptakan lingkungan kerja tambang yang aman bagi pekerja selaras dengan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), sedangkan penerapan metode geologi teknik untuk praktik penambangan material kuari, yang menjadi bahan baku penting pembangunan infrastruktur, mendukung SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur). Adapun sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang kebumian merupakan wujud nyata SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Melalui kegiatan ini, Program Studi Teknik Geologi FMIPA UHO berharap kemitraan dengan PT Konawe Metal Industri dapat terus berlanjut, baik dalam bentuk pembelajaran lapangan, kerja praktik, maupun penelitian tugas akhir mahasiswa. Sinergi ini diharapkan mampu melahirkan lulusan geologi yang kompeten, tanggap terhadap isu keselamatan, dan siap berkontribusi dalam pengelolaan sumber daya mineral di Sulawesi Tenggara secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.




