FMIPA UHO, Konawe Kepulauan – Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Halu Oleo (UHO) melalui Program KKN Tematik dan Bina Desa Tahun 2026 menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pemanfaatan Limbah Kelapa sebagai Produk Bernilai Ekonomi melalui Teknologi Tepat Guna” di Desa Baho Bubu, Kecamatan Wawonii Timur Laut, Kabupaten Konawe Kepulauan. Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah desa dalam menggali potensi pemanfaatan limbah kelapa sebagai sumber nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Ketua Panitia sekaligus Koordinator Desa Program KKN Tematik, Jihad Erlangga, dalam laporannya menyampaikan bahwa FGD dirancang sebagai ruang bertukar gagasan dan pengalaman antara mahasiswa, pemerintah desa, serta masyarakat. Kegiatan diawali dengan pemaparan materi mengenai teknologi pengolahan limbah sabut kelapa menjadi briket dan air kelapa menjadi nata de coco, kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif yang mendapat antusiasme tinggi dari peserta.
Kepala Desa Baho Bubu, Asrul Kosa, mengapresiasi pelaksanaan Program KKN Tematik FMIPA UHO yang dinilai memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, inovasi pengolahan sabut kelapa menjadi briket membuka peluang usaha baru yang dapat meningkatkan nilai ekonomi masyarakat di desa.
Sementara itu, Ketua Tim KKN Tematik FMIPA UHO Tahun 2026, Dr.Sc. Harisma, S.T., M.T., menjelaskan bahwa limbah kelapa seharusnya tidak lagi dipandang sebagai produk buangan, tetapi sebagai sumber daya yang memiliki potensi ekonomi apabila diolah dengan teknologi yang tepat.


“Melalui kegiatan ini kami berharap masyarakat dapat menerapkan secara mandiri dan berkelanjutan teknologi pembuatan briket sabut kelapa dan nata de coco. Dengan demikian, limbah kelapa dapat diubah menjadi produk yang bernilai jual sehingga mampu meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat desa,” ujarnya.
Pada sesi demonstrasi, mahasiswa Program Studi Teknik Geologi, Ahmad Sodikin dan Jihad Erlangga, memperagakan proses pembuatan briket berbahan dasar sabut kelapa. Mereka menjelaskan bahwa briket sabut kelapa memiliki keunggulan menghasilkan panas yang lebih besar serta waktu pembakaran yang lebih lama dibandingkan bahan bakar konvensional. Proses pembuatannya dilakukan dengan mengubah sabut kelapa menjadi serbuk melalui proses pemanasan, kemudian dicampur dengan tepung tapioka dan air sebagai perekat sebelum dicetak menjadi briket.


Selanjutnya, Fobenika memaparkan proses pembuatan nata de coco yang memanfaatkan air kelapa sebagai bahan baku utama. Air kelapa dimasak hingga mendidih bersama gula pasir, pupuk ZA, dan cuka, kemudian difermentasi dengan penambahan natrium benzoat sesuai kebutuhan proses pengolahan untuk menghasilkan nata de coco yang siap diolah lebih lanjut.
Melalui FGD ini, FMIPA UHO tidak hanya memperkenalkan inovasi teknologi tepat guna kepada masyarakat, tetapi juga memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pemberdayaan desa melalui penerapan ilmu pengetahuan. Kegiatan ini menjadi salah satu implementasi pengabdian kepada masyarakat yang sejalan dengan semangat kampus berdampak , yaitu menghadirkan solusi berbasis sains yang berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah pesisir dan kepulauan.







